Cari Blog Ini

Memuat...

Cari Blog Ini

Memuat...

Cari Blog Ini

Memuat...

Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 16 Juni 2011

PRESTASI BELAJAR

A. Prestasi Belajar
1. Pengertian Belajar
Prestasi belajar tidak dapat dipisahkan dari berbuatan belajar,
karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan prestasi belajar
adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut.
Bagi seorang siswa belajar merupakan suatu kewajiban. Berhasil atau
tidaknya seorang siswa dalam pendidikan tergantung pada proses belajar
yang dialami oleh siswa tersebut.
Menurtut Logan, dkk (1976) dalam Sia Tjundjing (2001:70) belajar
dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap
sebagai hasil pengalaman dan latihan . Senada dengan hal tersebut,
Winkel (1997:193) berpendapat bahwa belajar pada manusia dapat
dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung
dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu
bersifat relatif konstan dan berbekas.
Belajar tidak hanya dapat dilakukan di sekolah saja, namun dapat
dilakukan dimana-mana, seperti di rumah ataupun dilingkungan
masyarakat. Irwanto (1997:105) berpendapat bahwa belajar merupakan
proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu dan terjadi
dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan menurut Mudzakir (1997:34)
belajar adalah suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan
perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku,
sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
Di dalam belajar, siswa mengalami sendiri proses dari tidak tahu
menjadi tahu, karena itu menurut Cronbach (Sumadi Suryabrata,1998:231)
:
"Belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam
mengalami itu pelajar mempergunakan pancainderanya. Pancaindera
tidak terbatas hanya indera pengelihatan saja, tetapi juga berlaku
bagi indera yang lain."

Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri
siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan belajar
karena perubahan tingkah laku akibat belajar memiliki ciri-ciri
perwujudan yang khas (Muhibbidin Syah, 2000:116) antara lain :

a. Perubahan Intensional
Perubahan dalam proses berlajar adalah karena pengalaman atau praktek
yang dilakukan secara sengaja dan disadari. Pada ciri ini siswa
menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan
pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan.
b. Perubahan Positif dan aktif
Positif berarti perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi kehidupan
serta sesuai dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang baru, yang
lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan aktif artinya perubahan tersebut
terjadi karena adanya usaha dari siswa yang bersangkutan.
c. Perubahan efektif dan fungsional
Perubahan dikatakan efektif apabila membawa pengaruh dan manfaat
tertentu bagi siswa. Sedangkan perubahan yang fungsional artinya
perubahan dalam diri siswa tersebut relatif menetap dan apabila
dibutuhkan perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan
lagi.
Berdasarkan dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, secara sengaja,
disadari dan perubahan tersebut relatif menetap serta membawa pengaruh
dan manfaat yang positif bagi siswa dalam berinteraksi dengan
lingkungannya.
2. Pengertian prestasi belajar
Untuk mendapatkan suatu prestasi tidaklah semudah yang dibayangkan,
karena memerlukan perjuangan dan pengorbanan dengan berbagai tantangan
yang harus dihadapi.
Penilaian terhadap hasil belajar siswa untuk mengetahui sejauhmana ia
telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi
belajar. Seperti yang dikatakan oleh Winkel (1997:168) bahwa proses
belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam
bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang nilai, sikap dan
keterampilan. Adanya perubahan tersebut tampak dalam prestasi belajar
yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan, persoalan atau tugas
yang diberikan oleh guru. Melalui prestasi belajar siswa dapat
mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.
Sedangkan Marsun dan Martaniah dalam Sia Tjundjing (2000:71)
berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar,
yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang
diajarkan, yang diikuti oleh munculnya perasaan puas bahwa ia telah
melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya
bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar
siswa.
Menurut Poerwodarminto (Mila Ratnawati, 1996 : 206) yang dimaksud
dengan prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan atau
dikerjakan oleh seseorang. Sedangkan prestasi belajar itu sendiri
diartikan sebagai prestasi yang dicapai oleh seorang siswa pada jangka
waktu tertentu dan dicatat dalam buku rapor sekolah.
Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
prestasi belajar merupakan hasil usaha belajar yang dicapai seorang
siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik di
sekolah pada jangka waktu tertentu yang dicatat pada setiap akhir
semester di dalam buki laporan yang disebut rapor.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.
Untuk meraih prestasi belajar yang baik, banyak sekali faktor yang
perlu diperhatikan, karena di dalam dunia pendidikan tidak sedikit
siswa yang mengalami kegagalan. Kadang ada siswa yang memiliki
dorongan yang kuat untuk berprestasi dan kesempatan untuk meningkatkan
prestasi, tapi dalam kenyataannya prestasi yang dihasilkan di bawah
kemampuannya.
Untuk meraih prestasi belajar yang baik banyak sekali faktor-faktor
yang perlu diperhatikan. Menurut Sumadi Suryabrata (1998 : 233) dan
Shertzer dan Stone (Winkle, 1997 : 591), secara garis besar
faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan prestasi belajar dapat
digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal.:


a. Faktor internal
Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat
mempengaruhi prestasi belajar. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu :
1). Faktor fisiologis
Dalam hal ini, faktor fisiologis yang dimaksud adalah faktor yang
berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera
a) Kesehatan badan
Untuk dapat menempuh studi yang baik siswa perlu memperhatikan dan
memelihara kesehatan tubuhnya. Keadaan fisik yang lemah dapat menjadi
penghalang bagi siswa dalam menyelesaikan program studinya. Dalam
upaya memelihara kesehatan fisiknya, siswa perlu memperhatikan pola
makan dan pola tidur, untuk memperlancar metabolisme dalam tubuhnya.
Selain itu, juga untuk memelihara kesehatan bahkan juga dapat
meningkatkan ketangkasan fisik dibutuhkan olahraga yang teratur.
b) Pancaindera
Berfungsinya pancaindera merupakan syarat dapatnya belajar itu
berlangsung dengan baik. Dalam sistem pendidikan dewasa ini di antara
pancaindera itu yang paling memegang peranan dalam belajar adalah mata
dan telinga. Hal ini penting, karena sebagian besar hal-hal yang
dipelajari oleh manusia dipelajari melalui penglihatan dan
pendengaran. Dengan demikian, seorang anak yang memiliki cacat fisik
atau bahkan cacat mental akan menghambat dirinya didalam menangkap
pelajaran, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi prestasi
belajarnya di sekolah.
2) Faktor psikologis
Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar
siswa, antara lain adalah :
a) Intelligensi
Pada umumnya, prestasi belajar yang ditampilkan siswa mempunyai kaitan
yang erat dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa. Menurut Binet
(Winkle,1997 :529) hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk
menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan suatu
penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu dan untuk menilai keadaan
diri secara kritis dan objektif. Taraf inteligensi ini sangat
mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa, di mana siswa yang
memiliki taraf inteligensi tinggi mempunyai peluang lebih besar untuk
mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, siswa yang
memiliki taraf inteligensi yang rendah diperkirakan juga akan memiliki
prestasi belajar yang rendah. Namun bukanlah suatu yang tidak mungkin
jika siswa dengan taraf inteligensi rendah memiliki prestasi belajar
yang tinggi, juga sebaliknya .
b) Sikap
Sikap yang pasif, rendah diri dan kurang percaya diri dapat merupakan
faktor yang menghambat siswa dalam menampilkan prestasi belajarnya.
Menurut Sarlito Wirawan (1997:233) sikap adalah kesiapan seseorang
untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu. Sikap siswa
yang positif terhadap mata pelajaran di sekolah merupakan langkah awal
yang baik dalam proses belajar mengajar di sekolah.
c) Motivasi
Menurut Irwanto (1997 : 193) motivasi adalah penggerak perilaku.
Motivasi belajar adalah pendorong seseorang untuk belajar. Motivasi
timbul karena adanya keinginan atau kebutuhan-kebutuhan dalam diri
seseorang. Seseorang berhasil dalam belajar karena ia ingin belajar.
Sedangkan menurut Winkle (1991 : 39) motivasi belajar adalah
keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan
kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan
yang memberikan arah pada kegiatan belajar itu; maka tujuan yang
dikehendaki oleh siswa tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor
psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas ialah dalam
hal gairah atau semangat belajar, siswa yang termotivasi kuat akan
mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.
b. Faktor eksternal
Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal-hal lain
diluar diri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diraih,
antara lain adalah :
1). Faktor lingkungan keluarga
a) Sosial ekonomi keluarga
Dengan sosial ekonomi yang memadai, seseorang lebih berkesempatan
mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku, alat
tulis hingga pemilihan sekolah
b). Pendidikan orang tua
Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung
lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi
anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan
yang lebih rendah.
c). Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga
Dukungan dari keluarga merupakan suatu pemacu semangat berpretasi bagi
seseorang. Dukungan dalam hal ini bisa secara langsung, berupa pujian
atau nasihat; maupun secara tidak langsung, seperti hubugan keluarga
yang harmonis.
2). Faktor lingkungan sekolah
a). Sarana dan prasarana
Kelengkapan fasilitas sekolah, seperti papan tulis, OHP akan membantu
kelancaran proses belajar mengajar di sekolah; selain bentuk ruangan,
sirkulasi udara dan lingkungan sekitar sekolah juga dapat mempengaruhi
proses belajar mengajar
b). Kompetensi guru dan siswa
Kualitas guru dan siswa sangat penting dalam meraih prestasi,
kelengkapan sarana dan prasarana tanpa disertai kinerja yang baik dari
para penggunanya akan sia-sia belaka. Bila seorang siswa merasa
kebutuhannya untuk berprestasi dengan baik di sekolah terpenuhi,
misalnya dengan tersedianya fasilitas dan tenaga pendidik yang
berkualitas , yang dapat memenihi rasa ingintahuannya, hubungan dengan
guru dan teman-temannya berlangsung harmonis, maka siswa akan
memperoleh iklim belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, ia akan
terdorong untuk terus-menerus meningkatkan prestasi belajarnya.


c). Kurikulum dan metode mengajar
Hal ini meliputi materi dan bagaimana cara memberikan materi tersebut
kepada siswa. Metrode pembelajaran yang lebih interaktif sangat
diperlukan untuk menumbuhkan minat dan peran serta siswa dalam
kegiatan pembelajaran. Sarlito Wirawan (1994:122) mengatakan bahwa
faktor yang paling penting adalah faktor guru. Jika guru mengajar
dengan arif bijaksana, tegas, memiliki disiplin tinggi, luwes dan
mampu membuat siswa menjadi senang akan pelajaran, maka prestasi
belajar siswa akan cenderung tinggi, palingtidak siswa tersebut tidak
bosan dalam mengikuti pelajaran.
3). Faktor lingkungan masyarakat
a). Sosial budaya
Pandangan masyarakat tentang pentingnya pendidikan akan mempengaruhi
kesungguhan pendidik dan peserta didik. Masyarakat yang masih
memandang rendah pendidikan akan enggan mengirimkan anaknya ke sekolah
dan cenderung memandang rendah pekerjaan guru/pengajar
b). Partisipasi terhadap pendidikan
Bila semua pihak telah berpartisipasi dan mendukung kegiatan
pendidikan, mulai dari pemerintah (berupa kebijakan dan anggaran)
sampai pada masyarakat bawah, setiap orang akan lebih menghargai dan
berusaha memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar